Minggu, 24 Juli 2011

Semangat Kami itu berbuah jiwa besar ( Menyambut HUT Kemerdekaan RI )

Follow gieantara31 on Twitter


Penulis : Gie Antara

Disuatu sore yang cerah tepatnya sebulan yang lalu, salah seorang pengurus RT ( Rukun Tetangga ) menemui saya dirumah. Beliau mengabarkan bahwa untuk menyambut hari kemerdekaan RI tahun ini, RW ( Rukun Warga ) kami akan mengadakan turnamen tenis meja antar RT. Ini bukan open turnamen, jadi seluruh pemain harus berdomisili di RT setempat. Sistim pertandingannya adalah beregu terbagi dari 3 partai yang kesemuanya ganda ( double ). Artinya setiap RT harus memiliki minimal 6 pemain agar bisa ikut serta pada pertandinagn tersebut. “seumur-umur RT kita ga pernah punya meja pingpong pak, jadi saya belum pernah tahu siapa saja warga kita yang bisa main pingpong” ucap saya. “ya pokoknya mas gie atur aja dan tolong dicarikan 6 pemain termasuk untuk cadangan nantinya, biar bagaimanapun RT kita harus turut meramaikan turnamen ini” balas beliau.

Iya, moment menyambut 17 Agustus harus tetap semarak seperti sediakalanya. Meskipun masyarakat sudah krisis kepercayaan terhadap pemerintahan dan tetek bengek politik beserta manusianya. Namun semangat 17 agustus harus tetap ada meskipun hanya 1 tahun sekali. Harus tetap ada…
Pada akhirnya saya dapat menemukan 5 teman untuk diajak ikut pertandingan, yang kesemuanya tak bisa sedikitpun memukul bola pingpong , tangannya begitu kaku dan langkahnya amat sangat berat meski hanya untuk bergeser meraih bola. Tapi semangat mereka sudah cukup buat saya memberanikan diri tampil membawa nama RT 005/09 Kel. Kebayoran Lama Utara. Kec. Kebayoran Lama. Jaksel.

RT saya berada pada pool A, setiap pool terdidri atas 4 tim/RT. Berada di pool yang lemah merupakan sebuah keberuntungan buat kami. Pada pertandingan pertama, RT saya berhadapan dengan RT 003/09. Kebetulan pada hari itu adalah hari minggu, RT.003/09 hanya membawa 4 orang, karena 2 orang lainnya sedang menghadiri resepsi pernikahan. itu artinya hanya bisa memainkan 2 partai double. Sementara partai ketiga sudah dipastikan RT saya yang memenanginya dengan menang secara WO. Di partai pertama saya berpasangan denga teman saya bernama Adis, Alhamdulilah, kelebihan tehnik pukulan yang saya miliki mampu menutupi kekurangan yang dimiliki teman saya, dan akhirnya RT saya menang telak 3-0 di partai pertama tersebut. Tapi sayang di partai kedua, RT saya kalah telak 0-3 juga. Artinya kedudukan atau skor besar dari dua partai ini sama imbang 1-1. Dan seperti yang sudah disebutkan diatas, di partai ketiga kami menang WO karena RT.003/09 kekurangan pemain. Ini adalah keberuntungan pertama yang berpihak kepada kami. Seusai pertandingan tersebut, kami tidak langsung pulang, melainkan latihan bersama selama 4 jam untuk menghadapi pertandingan berikutnya. ya, mumpung ada meja kosong jadi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Saya memberikan pelajaran pukulan dasar kepada teman-teman, lalu berikutnya pelajaran menerima service. Semangat mereka membuat pelajaran yang saya berikan menjadi begitu mudah mereka terima.
RT kami tak punya meja, jadi kami berlatih lewat lisan saja. Kita selalu berkumpul setiap malam hanya membahas tehnik demi tehnik pukulan, evaluasi, dan menganalisa permainan lawan nantinya. Mereka banyak bertanya tentang pingpong dan tehnik permainannya, mereka menjadi antusias, dan ada harapan dimata mereka agar kami harus mendapat hasil yang baik dan tidak sekedar hanya turut menyemarakkan pertandingan ini. Memang, semangat harus tetap ada…

Pertandingan selajutnya bertemu RT.001/09. Lama kami menunggu akhirnya mereka tak datang dan kami dinyatakan menang WO. Ini keberuntugan selanjutnya yang kami raih. Lagi-lagi kami tak langsung pulang, tapi berlatih bersama sampai jam 12 malam, mumpung meja digelar. Banyak peningkatan yang dialami oleh teman-teman. Seseorang teman membisikkan sesuatu ditelinga saya, “kita harus juara… “. Saya hanya tersenyum kecil, membayangkan kekuatan lawan di pool B ( poll neraka ) semuanya berat. RT mereka masing-masing memilki meja dan berlatih setiap hari, sementara kami berlatih hanya lewat lisan dan seminggu sekali menggunakan meja panitia disaat lawan WO seusai pertandingan. Tapi entah kenapa bisikan kecil itu menjadi isyarat besar. Mungkin karena semangat itu ada…
Seminggu kemudian, kami bertemu lawan terakhir di pool kami yaitu RT.002/09. , sekaligus penentu sebagai juara grup jika mampu menang. Alhamdulilah kami memenanginya dengan skor besar 2-1. Dan kami dinobatkan sebagai juara pool A dan akan bertemu Runner Up pool B yang disebut juga sebagai pool neraka. Seperti biasa kami kembali berlatih seusai bertanding melawan RT.002/09. Materi latian kali ini adalah tehnik Spin dan tehnik nenanggulangi bola-bola berat dari lawan. Semua terlihat serius dan ingin bisa.
Tibalah saatnya pada semi final, lawan kami adalah RT.004/09. Sebua tim yang memiliki segudang pemain berbakat dan hebat, kami datang membawa asa yang tersamar dengan logika diatas kertas. Dalam hati kami hanya ada kata “mungkinkah??” . Kami nampaknya harus mengubur keberuntungan, dan memang bukan untuk itu kami datang, tapi untuk berjuang membawa hasil latihan kami selama ini. Strategi memasang pemain sudah coba saya perhitungkan dengan matang, tapi dibolak-balik seperti apapun kualitas pemain lawan jauh diatas rata-rata dari pemain kami. Tak lupa sebelum main kami berdoa dan saya memberi arahan pada teman-teman, sekaligus menanamkan semangat dan juga keikhlasan jika mendapati hal yang tak diharapkan. Antusias penonton yang lumayan banyak menambah percaya diri kami, meskipun mereka tak menjagokan kami.
Di partai pertama, saya berpasangan dengan adis. Di set pertama kami dihajar 1-11 oleh lawan, tiba-tiba saya melihat wajah murung teman saya bernama Iyus, dia adalah seorang penjaga warnet yang sering bolos hanya untuk berkumpul dan latihan bersama kami, kerap kali dia dimarahi bosnya karna hal itu. Bahkan hampir di pecat. Saya pandangi matanya begitu dalam, ada harapan besar dimatanya agar kami menang. Matanya bicara banyak, tanpa kata-kata… ya, semangat harus tetap ada…
Di set kedua, semangat kami membara. Sebulan yang lalu teman pasangan saya ini tak bisa memukul bola, apalagi menerima service. Tapi malam ini dia begitu lihai, meskipun hanya sekedar memukul masuk dan tidak membunuh, sehingga membuat lawan drop dan pada akhirnya saya lah yang bertugas membunuh dengan spin ataupun smash. Semangat kami mencoret tulisan diatas kertas, semangat kami telah membalikan keadaan, semangat kami membakar suasana. Dan akhirnya di partai pertama itu kami menang 3-1. Dan cukup menjadi modal bagi teman-teman agar termotivasi dipartai selanjutnya.
Partai kedua, kami menurunkan Harno dan Iyus. Tak ada yang tak mungkin, “tak perlu ada keajaiban selama kita yakin bahwa kita melangkah maju setiap hari”. Begitu bisikku pada Iyus dan Harno. Set pertama kami kalah, set kedua pun kami kalah. Seolah mengubur sementara harapan kami, tapi tidak untuk semangat kami. Di set ketiga awal saat skor 0-2 untuk lawan, saya mencoba untuk time out dan memberi arahan. “Lepas semua beban, ikhlasan jika memang kita harus kalah, tapi tehnik memukul yang pernah dipelajari kemarin harus dipraktekan sekarang atau tidak sama sekali sampai kapanpun karena even ini jarang sekali terjadi di RW kita” begitulah sedikit arahan dari saya. Sepertinya Iyus dan Harno paham betul pesan singkat saya. Bola kembalian dari lawan selalu di Spin habis oleh Iyus yang notabenenya pemain kidal ini. Dan anehnya selalu masuk dan sulit diblok lawan karena spin pemain kidal mempunyai ciri khas tersendiri laju dan arah bolanya yang sukar diterka. Percaya diri mereka kembali bangkit dan seolah sudah menemukan kunci jawaban yang ideal dari permainan ini. Sebaliknya, lawan justru semakin grogi dan menjadi serba salah. Akhirnya kami memenangi partai ini, dan kedudukan menjadi 2-0 buat kami, itu artinya kami berhak lolos ke final. Sementara partai ketiga tidak dimainkan karena skor 2-0 saja sudah cukup buat kami untuk lolos ke final. Tuhan mungkin tak akan memberi keberuntungan lagi kepada kami, tapi Tuhan akan memudahkan jalan bagi kami yang semangat dan juga ikhlas. Yang penting semangat itu harus tetap ada..

Seusai pertandingan semi final tersebut, panitia mengumunkan bahwa pertandingan final akan dilaksanakan pada tanggal 19 juli, yaitu 2 hari lagi dari hari ini. Dan kami akan bertemu dengan RT.006/09 yang merupakan tuan rumah dari event ini. Tak henti-hentinya rasa syukur kami panjatkan atas kesuksesan kami sejauh ini.
Tibalah pada tanggal 19 malam, dengan penuh semangat kami datang untuk final, namun ketika sampai ditempat pertandingan kami menemukan kondisi yang tak seperti layaknya ajang final, kursi penonton belum terpasang, meja belum disiapkan, dan suasana sepi. Hanya ada satu orang yang sedang duduk disana, lalu dia menjelaskan bahwa final ditunda tanpa sebab yang jelas, dia sedikit keceplosan bilang bahwa 1 pemain andalan lawan kami sedang tugas piket dikantornya dan tidak bisa main hari ini. Sementara 1 pemainnya lagi masuk kerja shift malam. Memang panitia pertandingan ini adalah orang-orang RT.006/09 yang juga sebagai lawan kami di final. Tapi ini tidak fair, tanpa konfirmasi terhadap kami, final ditunda secara sepihak dari jadwal yang sudah ditentukan hanya karena pemain andalan mereka tak bisa bermain karena tugas. Sebegitu pentingkah juara untuk mereka?? Dengan mengabaikan sportifitas. Tak lama kemudian Panitia menghubungi saya lewat ponsel, “ Maaf Gie, salah satu panitia lupa konfirmasi klo pertandingan diundur besok malam karena hari ini panitia sedang mencari hadiah dan membuat piala”. Begitu klarifikasi panitia. Alibi?? Tak sepantasnya hal-hal non teknis dijadikan kambing hitam untuk mengorbankan hal-hal teknis yang sudah disepakati bersama.
Dengan penuh kekecewaan kami pulang, debat argument melalui sms dengan panitia mengisi waktu sepanjang malam. Dan akhirnya keluarlah kalimat “besok kami WO dan RT.006 kami ikhlaskan menjadi juara jika memang itu yang diinginkan” send messege…
Ya, malam itu kami bersepakat untuk tidak akan menghadiri acara final besok, biarlah ini menjadi tamparan bagi panitia , apa jadinya jika ajang final yang akan ditonton oleh orang banyak dan petinggi RW hanya menghasilkan kemenangan WO. Padahal final adalah sesuatu yang banyak diimpikan oleh tim lain. Semua orang akan bertanya, ada apa????
Tak ingin menjadi malu, panitia terus melobi saya agar besok hadir dan bermain final, saya tak memberi jawaban dan HP saya non aktifkan. Teman-teman menunggu intruksi dari saya, apapun yang saya putuskan akan mereka ikuti termasuk menyerahkan trophy juara pada sang lawan tanpa bertanding.
Sepanjang malam saya berfikir, jika saja pertandingan final itu berlangsung hari ini maka kami yang akan juara karena mereka kehilangan dua pemain handalnya malam ini. Tapi mungkinkah Tuhan memilik rencana lain??

Siang hari menjelang final, saya mencoba mendatangi tempat biasa tim kami berkumpul. Tak lama kemudian pak RT menghampiri saya, “tadi panitia datang kerumah, terus minta maaf atas penundaan final secara sepihak, mereka berharap agar kita nanti malam sudi main final, tapi semua terserah mas Gie”. Begitulah cerita pak RT pada saya. “kita akan datang pak, tapi biarkan panitia dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan atas rasa bersalah sebagai cambuk dan pelajaran penting buat mereka. Jangan beri jawaban apapun kepada mereka sampai tiba saatnya nanti kita hadir untuk bermain”.

Biasanya sebelum pertandingan saya sudah hadir ditempat tim kami berkumpul jam 7 malam, tapi khusus malam final ini saya hadir jam 8 lewat. Tak bisa dibayangkan apa yang sedang berkecamuk didalam hati panitia menunggu kedatangan kami diajang final tersebut. Penonton telah banyak, petinggi RW sudah berdatangan. Sementara kami masi h asyik membicarakan strategi ditempat tim kami biasa berkumpul dan belum member kabar bahwa kami akan hadir.
Mungkin mereka ( panitia ) sudah mendapat pelajaran berharga malam mini. Akhirnya kami berjalan menuju tempat pertandingan. Sesampainya, kami disambut pikiran lumer panitia yang sepertinya seharian telah beku. Dan ternyata pemain RT.006/09 komplit malam ini. Tapi biarlah, kami sudah menang segala-galanya. Jiwa besar kami telah mengalahkan segalanya, mengalahkan ketidak fair-an, mengalahkan egoisme, dan mengalahkan hawa nafsu untuk membuat malu panitia.
Memang pada akhirnya kami kalah diatas meja, namun kami puas karena pada akhirnya kami dihadiahkan jiwa besar oleh Tuhan. Melebihi sebuah trophy dan hadiah apapun. Dan semangat itu harus tetap ada…
Kami semua sudah cukup bersyukur atas pencapaian ini. Juara kedua sudah cukup meyakinkan bahwa semangat, kemauan, dan kerja keras tak pernah berbohong. Tiba saatnya panitia membagikan trophy, kami sepakat agar pak RT kami yang pantas menerima itu, yang sudah mempercayakan kami untuk membawa nama baik RT. Biarlah pak RT merasakan kebanggaan hasil daripada kumpulan semangat-semangat kami. Selain trophy, panitia juga memberikan uang pembinaan berjumlah ratusan ribu.
Pak RT berencana membagi rata uang tersebut kepada kami, tapi lagi-lagi kami sepakat bahwa sebaiknya uang itu dialokasikan untuk membeli meja pingpong. Agar kelak, kami tak lagi berlatih secara lisan sambil memperagakan gerakan tanpa bola, agar kami tak lagi mencuri waktu latihan dengan menggunakan meja panitia hingga larut malam. Atau mungkin kelak di RT kami akan lahir pemain-pemain berbakat yang bisa meneruskan perjuangan kami. Meneruskan semangat dan mempertahankan jiwa besar yang pernah ada.

Artikel yang berkaitan



0 komentar:

Posting Komentar